Aku dan 97 butir Yellow Caturra
Oleh: Enjang Sugianto
Barmoel - Hari ini panen pertama kopi kuning atau Yellow Catura di Leuwi Goong. Selasa, 30 Juni 2020.
Sebuah kehormatan kopi kuning ini dipanen pertama kali oleh sesepuh kopi arabika di Desa Pusakamulya yakni Abah Toha.
Memang tidak banyak, dulu dapat benih cuma 3 pohon. Ditanam di Leuwi Goong, pada hari Senin tanggal 6 Agustus 2018 (kalo tidak salah). Ini videonya:
Lokasi tanam dipisahkan dengan lahan kopi arabika lainnya. Kebunnya masih di Leuwi Goong, Legokbarong.
Sayang sekali, lokasi terlalu rimbun. Terisolir sehingga suka terlewat saat pemeliharaan kopi.
Pohon kopi mati satu kena tebas, masih kecil. Kopi kuning tinggal dua pohon.
Pada hari Sabtu tanggal 6 Juli 2019 diambil foto saat buah pertama kopi Yellow Catura muncul. Ini fotonya:
Belum banyak, hanya beberapa butir buah. Karena masih sedikit, buah tidak dipanen.
Berbuah lagi tahun 2020 ini, orang yang panen pertama adalah Abah Toha dari Kopi Sunda Purwa (KSP).
Hari Selasa tanggal 30 Juni 2020, saya video saat Beliau panen:
Hasil panen pertama langsung diolah, pertama direndam untuk memastikan kopi bernas yang kita olah.
Hasilnya ada 97 kopi yellow catura yang terpilih. Kopi yang mengapung kita pisahkan atau dibuang. Ini foto kopi yang bernas:
Langsung kita kupas kulitnya, kemudian direndam selama satu malam. Kita akan olah dengan cara full wash.
Satu hari kemudian (Rabu, 1 Juli 2020), biji kopi basah yang sudah direndam selama satu malam kita bersihkan hingga tidak ada lendir yang menempel digabah kopi basah ini. Ini fotonya:
Selanjutnya cuci bersih dan jemur hingga kering. Melihat cuaca saat ini dan kopinya sedikit sekali, sepertinya empat hari juga akan kering.
Setelah beberapa hari dijemur, beginilah penampakan kopi koneng:
Hari ini, Minggu (12/7/2020) gabah kopi kering dikupas dengan cara dipocel menggunakan tangan. Begini penampakannya:
Setelah dibuang kulit tanduknya, kita dapati greenbean (kopi berasan/kopi beasan). Kulit ari masih menempel utuh di greenbean, jika dihuller akan lebih bersih.
Mau lihat sekamnya nggak? Kalo mau ini lihat saya foto:
Setelah dibuang sekamnya, sebenarnya ada mesin khusus untuk membuang kulit ari, saya lupa namanya, yang saya ingat harganya sangat mahal.
Sekarang kita bungkus dulu greenbeannya, ada 194 butir greenbean kopi arabika koneng. Ini fotonya:
Jumlah 194 bukan dari 97 butir cherry dikali 2, karena kopi arabika kan dikotil. Satu butir kopi gelondong itu isinya dua biji, tampak seperti sebelah-sebelah.
Aslinya itu ada beberapa yang monokotil alias berbiji tunggal. Sering kita sebut Kopi Lanang, kalau tidak lupa ada 9 butir kopi lanangnya.
Kemudian jumlahnya jadi 194 pas itu dari mana? Saya tambahkan dari beberapa cherry yang mengapung saat direndam.
Karena yang mengapung saat direndam itu ternyata ada yang sebelah jelek dan sebelahnya lagi 'bagus'.
Setelah dikupas biji yang 'bagus' itu saya masukan kembali ke dalam air, ternyata tidak mengapung, artinya biji tersebut bernas atau berisi. Maka saya tambahkan.
Tapi setelah mulai dijemur barulah kelihatan, biji yang saya kira 'bagus' ternyata memang jelek (defect). Saat dijemur biji tersebut mengecil lebih cepat dari yang lain.
Beberapa hari kemudian tumbuh jamur (bulukan). Biar lebih paham yang saya maksud, ini fotonya, saya tunjukin pakai telunjuk:
Sebelum dilanjut ke huller dan penyangraian, Mamang tawarkan dulu. Barangkali mau beli kopi Mang Enjang klik DISINI!
:::Bersambung